Artikel
pembentukan karakter dilingkungan keluarga

pembentukan karakter dilingkungan keluarga


Oleh lety Suharti | Senin, 23 Oktober 2017 17:54 WIB | 11.949 Views

Anak adalah mutiara kehidupan yang diamanahkan oleh Allah kepada orangtua. Kehadirannya senantiasa memberi arti untuk menggores kanvas kehidupan mendatang. Sejatinya, anak adalah pemilik masa depan.
Setiap anak yang dilahirkan dianungerahi oleh Allah SWT berupa sifat fitrah (suci), maka orangtua dan lingkungan keluarga mempuyai peran sentral dan bertanggung jawab penuh dalam penentukan masa depan anak. Hal itu sangat beralasan karena kualitas sumber daya manusia di muka bumi ini sangat ditentukan oleh faktor pendidikan dasar yang diberikan oleh orangtuanya. Sebagai pengembang amanah, orangtua bertanggung jawab untuk membentuk kepribadian anak sejak masa pertumbuhannya, sebagaimana dilukiskan oleh Rasullulah SWA ”Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orangtuanyalah yang menentukan anak itu akan dijadikan orang Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (Hr Bukhari). Tanggung jawab orangtua tidak hanya sebatas pemenuhan pada kebutuhan materi, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk pembentukan karakter anak sejak masa pertumbuhan.
Anak-anak yang diasuh secara baik dan dibekeli dengan pendidikan yang memadai termasuk pembentukan karakter yang baik diharapkan akan menjadi anak yang baik (shalih/shalihah).
Pembentukan karakter dilingkungan keluarga yang dapat dilakukan oleh orangtua dengan cara
1. 
Keteladanan
Peran orangtua dalam pembentukan karakter anak sejak dini sangat penting bagi kehidupannya kelak. Dan keteladanan mempuyai pengaruh yang lebih besar bagi anak daripada nasehat dan ucapan. Seorang anak membutuhkan teladan yang baik, dan dia mengambil teladan dari orangtuanya. Karenanya dia mempuyai kecenderungan untuk meniru perilaku orang yang disukai, serta berusaha tampil seperti orang yang disukai. Dalam pembentukan dan pengembangan karakter anak, sebaiknya menggunakan pendekatan agama karena setiap agama berujung pada pembentukan karakter yang baik. Caontoh, seorang anak akan sukar melakukan shol at apa bila orangtuanyahanya hanya menyuruh saja anaknya untuk melakukan sholat, tanpa orangtuanya melakukan sholat, tetapi akan lebih mudah apa bila orangtuanya yang terlebih dahulu memberikan keteladanan itu.
2. Konsisten
Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak, anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya dan anggota keluarga lainnya, seperti perkataan, perbuatan dan sikap yang selalu orangtua lakukan. Untuk  membentuk karakter anak diperlukan perkataan, perbuatan dan sikap  yang konsisten dilakukan dilingkungan keluarganya, jaganlah sekali-kali orangtua yang menerapkan pola asuh yang berbeda antara ayah dan ibu sehingga membuat anak kebinggungan, buatlah kesepakatan antara ayah dan ibu bagaimana pola asuh yang tepat sesuai dengan usia anak, sehingga anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Pembentukan karakter diperlukan konsisten perkataandan, perbuatan dan sikap yang diterapkan pada anak, dengan cara mendengar, melihat perbuatan, perkataan dan sikap yang konsisten dilakukan oleh ayah dan ibu akan terbentuk karakter yang baik bagi anak. Contoh  kecil yang konsisten dilakukan  apabila anggota keluarga untuk masuk/pergi dari rumah untuk mengucapkan salam terlebih dahulu.
3. Pembiasaan
Anak adalah peniru ulung apa yang dilihat didengar dan dirasakan  akan cepat ditiru. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Dalam keluargalah pertama kali anak akan dibentuk karakternya. Pembiasaan berbuatan, perkataan dan sikap yang baik perlu diulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan, dengan terbiasanya berbuat, berkata dan besikap yang baik akan menjadikan karakter yang baik pula bagi anak. Contoh pembiasaan bersikap santun dan sopan terhadap orangtua serta orang yang dituakan. Seperti membiasakan berbicara dengan orangtua, jangan sampai volume suara anak lebih tinggi dari volume suara ibu atau ayahnya.
3. Komunikasi
Komunikasi akan efektif apabila penyampaian pesan dapat dipahami oleh penerima pesan dengan nyaman.
Cara membangun komunikasi efektif dengan anak
*        Memberikesempatan pada anak agar bicara lebih banyak
*        Mendengar aktif
*        Berkomunikasi dengan posisi tubuh sejajar dengan anak dan kontrol mata
*        Berbicara dengan jelas dan singkat agar anak mengerti
*        Gunakan bahasa (kata-kata ) yang positip
*        Mereflesikan/memantulkan  perasaan dan arti yang disampaikan
*        Memperhatikan bahasa tubuh anak
Dalam lingkungan keluarga komunikasi yang harmonis dapat menumbuhkan karakter anak yang baik, banyak masalah yang terjadi dengan anak karena komunikasi yang salah/ diskomunikasi.
Ciptakanlah lingkungan keluarga yang nyaman, tenang sehingga anak dapat merangsang anak utuk dapat bekomunikasi yang efektif degan orang tua dan anggota  keluarga lainnya
4. Disiplin
Salah satu pondasi yang dibutuhkan semua orang utuk meraih sukses adalah kedisiplinan. Peran orangtua dilingkungan keluarga sangat berperan sekali untuk menumbuhkan kedisiplinan, membiasakan kedisiplinan dari segala hal membuat seseorang belajar bekerja secara terencana, hingga semua kewajiban yang menjadi tugas utamanya dapat terselesaikan dengan tuntas. Kedisplinan dilingkungan keluarga ditanamkan sejak usia dini tanpa adanya kekerasan yang diterapkan pada anak, kedisplinan dapat diterapkan dengan adanya kesepaktan antara anak dengan orangtua, sehingga anak melakukan segala hal tanpa merasa beban dan menjadikan tanggng jawabnya. Contoh kedisiplinan yang dapat dilakukan oleh anak misalnya belajar membereskan tempat tidur, membereskan bekas bermain, gosok gigi sehari dua kali pagi dan sebelum tidur, sholat tepat pada waktunya dsb.
5. Tanpa kekerasan
Bentulah karakter yang baik terhadap anak tanpa  dengan kekerasan, pepatah mengkatakan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Maka itu berhati-hati dalam bersikat terutama bila didepan anak.
*        Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
*        Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
*        Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
*        Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
*        Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
*        Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
*        Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
*        Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam  hidupnya.
 
 







Artikel Lainnya